Beranda | Artikel
Tafsir Surah Abasa (Bag. 2): Al-Quran adalah Nasihat bagi Jiwa Manusia
1 hari lalu

Pada penggalan ayat sebelumnya, Allah bercerita tentang Nabi yang bermuka masam ketika konsentrasi beliau dalam mendakwahi pembesar Quraisy “diganggu” oleh Abdullah bin Ummi Maktum yang buta. Maka dalam penggalan ayat berikutnya, Allah memulai dengan kalimat “Kalla” yang bermakna “Jangan melakukan hal seperti itu lagi”, menjadi pelajaran bagi kita semua untuk memperhatikan para orang-orang lemah dan jangan berpaling dengan silaunya harta dunia milik orang-orang kaya dan tamak menginginkan bagian tersebut dari mereka.

Al-Qur’an memberikan pelajaran atas hal tersebut, bermanfaat bagi siapa saja yang membacanya, mempelajarinya, kemudian mengamalkannya. Akan tetapi, Al-Qur’an juga akan menuntut kita di hari kiamat jika kita menelantarkannya. Maka hal ini adalah kandungan yang akan kita tadabburi bersama dalam lanjutan tafsir ini.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

كَلَّآ اِنَّهَا تَذْكِرَةٌ ۚ

“Sekali-kali jangan (begitu)! Sesungguhnya (ajaran Allah) itu merupakan peringatan.” (QS. Abasa: 11)

Allah menjelaskan kepada Nabi, wahai Rasulullah, janganlah engkau melakukan kembali seperti apa yang terjadi pada Ibnu Ummi Maktum.

Perkara yang dijelaskan oleh Nabi adalah Al-Qur’an, surat yang terkandung dan ayat yang terangkai indah semuanya adalah nasihat serta peringatan bagi seluruh makhluk. Peganglah dengan kuat semua ayatnya serta amalkan, maka niscaya hal itu akan cukup menjadi peringatan agar tidak terjurumus ke dalam gelapnya kesyirikan dan kekufuran.

Dalam ayat ini, terkandung pengagungan terhadap kedudukan Al-Qur’an, baik orang-orang kafir itu mau menerima hidayahnya atau tidak mau, maka Al-Qur’an tetaplah mulia dan penuh dengan hidayah.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

فَمَنْ شَاۤءَ ذَكَرَهٗ ۘ

“Siapa yang menghendaki tentulah akan memperhatikannya.” (QS. Abasa: 12)

Al-Qur’an adalah pemberi peringatan yang sangat jelas. Setiap orang yang dijelaskan kandungannya pasti akan mampu untuk memahami dan menyadari hidayah di dalamnya. Siapa saja yang berniat memperhatikan dengan baik, maka Allah akan berikan jalan untuk memahaminya.

Ayat ini menjadi bantahan bagi mereka yang mengatakan, “Kalau memang Al-Qur’an itu hidayah, mengapa masih banyak orang yang tersesat?” Maka jawabannya, kesalahan bukan ada pada Al-Qur’an, akan tetapi kesalahannya terletak pada mereka yang tidak mau menggunakan akalnya untuk merenungi Al-Qur’an. Mereka hanya menggunakan akalnya untuk meraup keuntungan duniawi dan hidup enak di dunia saja, namun tidak mau merenungi kehidupan akhirat, tidak mau merenungi dan menelaah bahwa ada kitab suci terakhir yang bernama Al-Qur’an.

Kesalahan juga ada pada mereka yang sudah merenungi dan mempelajari Al-Qur’an, akan tetapi hatinya menolak hidayah karena kesombongan. Sebagaimana kisah Fir’aun yang hatinya mengetahui bahwa yang disampaikan Nabi Musa adalah kebenaran, namun tubuh dan lisannya menolak karena kesombongan yang ada pada hatinya. Kesombongannya mengalahkan hidayah yang telah Allah berikan, maka Allah campakkan dia dalam kesesatan yang semakin gelap.

Kemudian Allah melanjutkan penjelasan tentang keagungan Al-Qur’an.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

فِيْ صُحُفٍ مُّكَرَّمَةٍۙ , مَّرْفُوْعَةٍ مُّطَهَّرَةٍ ۢ ۙ , بِاَيْدِيْ سَفَرَةٍۙ , كِرَامٍۢ بَرَرَةٍۗ

“Di dalam suhuf yang dimuliakan (di sisi Allah), yang ditinggikan (kedudukannya) lagi disucikan, di tangan para utusan (malaikat) yang mulia lagi berbudi.” (QS. Abasa: 13-16)

Al-Qur’an adalah untaian hidayah, suatu kitab berisi ilmu serta hikmah, yang terjaga dengan sempurna pada lembaran-lembaran yang dimuliakan oleh Allah.

Allah meninggikan derajat Al-Qur’an dan orang-orang yang berinteraksi dengan baik dengannya. Allah menyucikannya dari semua kesalahan, baik teks maupun makna yang terkandung padanya, tidak ada satu pun kesalahan ada padanya yang dapat mengotorinya.

Allah menjaga Al-Qur’an dari dikotori oleh setan dalam bentuk manusia dan jin. Ketika Al-Qur’an diturunkan kepada Rasulullah selama berangsur-angsur, Allah perketat penjagaan pada tiap pintu dan lapis langit, agar setan jin tidak bisa menguping atau mengganggu turunnya wahyu yang agung ini.

Ketika Al-Qur’an sudah lengkap, Allah juga menjaga kitab suci ini dari tangan-tangan kotor orang kafir yang ingin menambah dan mengurangi isinya, menggantinya, bahkan membuat tandingannya. Allah hinakan semua orang yang berniat buruk kepadanya.

Allah juga memuliakan para malaikat yang membawanya dari langit sampai ke hati Rasulullah. Ibnu Jarir At-Thabari rahimahullah menjelaskan bahwa kata “safarah” dalam ayat tersebut adalah malaikat.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

قُتِلَ الْاِنْسَانُ مَآ اَكْفَرَهٗۗ

“Celakalah manusia! Alangkah kufur dia!” (QS. Abasa: 17)

Kalimat ini adalah bentuk kalimat yang biasa dipakai orang Arab untuk menunjukkan perasaan “kaget” dan heran. Kita diajak berpikir, kok bisa-bisanya ada manusia yang kafir berpaling dari iman.

Allah telah tunjukkan berbagai bukti kekuasaannya lewat indahnya alam semesta kepada manusia, seharusnya mereka berpikir bahwa “pastilah ada yang menciptakan semua ini”. Kemudian Allah juga telah mengutus Rasul untuk menjelaskan kebenaran. Allah juga mengabadikan Al-Qur’an sampai menjelang hari kiamat sehingga mereka bisa belajar dan mencari petunjuk. Lebih jauh, Allah juga senantiasa mengadakan para dai di setiap zaman untuk mendakwahkan isi Al-Qur’an, mengajak manusia memahami bahwa alam semesta ini ada penciptanya, dan penciptanya adalah Allah, serta mengajak untuk menyembahnya dengan ikhlas.

Lantas, dengan semua sarana dan jalan hidayah ini, sangat mengherankan bagaimana bisa sebagian orang tetap berada dalam kekafiran menentang dan tidak percaya kepada Allah.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

مِنْ اَيِّ شَيْءٍ خَلَقَهٗۗ , مِنْ نُّطْفَةٍۗ خَلَقَهٗ فَقَدَّرَهٗۗ

“Dari apakah Dia menciptakannya? Dia menciptakannya dari setetes mani, lalu menentukan (takdir)-nya.” (QS. Abasa: 18-19)

Allah mencela orang-orang kafir, yang menentang setelah dijelaskan hidayah menuju kebenaran. Celaan ini sangatlah dalam, “Orang-orang kafir itu, mereka diciptakan oleh Allah dari air yang hina lagi rendah, kemudian setelah bisa berpikir malah dengan beraninya menentang Allah.”

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

ثُمَّ السَّبِيْلَ يَسَّرَهٗۙ

“Kemudian, jalannya Dia mudahkan.” (QS. Abasa: 20)

Terdapat dua tafsir untuk ayat ini, sebagian mufasir menjelaskan bahwa ayat ini bermakna Allah memudahkan mereka keluar dari perut ibunya, dengan berbagai mekanisme biologis yang menakjubkan, yang tidak mungkin dapat ditiru oleh manusia. Allah berikan kemudahan mereka keluar, lalu setelah keluar dari perut ibunya dengan selamat dan dapat berpikir ketika dewasa, mereka kufur kepada Allah.

Tafsir lain menyebutkan bahwa makna ayat ini adalah Allah berikan dua jalan kepada mereka, jalan menuju kebaikan dan jalan keburukan, kemudian mereka memilih jalan mana yang akan mereka tempuh. Allah memberikan pilihan kepada mereka, sehingga mereka akan dibalas dengan pahala atau dosa atas pilihan apa yang mereka ambil.

Semua manusia telah Allah memberikan berbagai kejadian dalam hidupnya yang menjadi jalan hidayah baginya, akan ada saat dimana hatinya terketuk oleh cahaya hidayah. Kemudian tugas selanjutnya adalah apakah dia mau menjemput hidayah tersebut atau malah abai tidak peduli dengan ketukan hidayah tersebut.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

ثُمَّ اَمَاتَهٗ فَاَقْبَرَهٗۙ , ثُمَّ اِذَا شَاۤءَ اَنْشَرَهٗۗ

“Kemudian, Dia mematikannya lalu menguburkannya. Kemudian, jika menghendaki, Dia membangkitkannya kembali.” (QS. Abasa: 21-22)

Setelah manusia hidup di dunia, menghabiskan jatah umur dan rezeki mereka, maka pasti mereka akan merasakan kematian. Manusia dikuburkan dalam tanah sebagai bentuk penghormatan kepada mereka, di antaranya agar tubuh mereka tidak dimakan oleh binatang buas. Adapun bentuk pemulasaraan jenazah dengan bentuk lain seperti dibakar (kremasi), diawetkan dalam bentuk mumi, dan semisalnya adalah bentuk penghinaan dan keburukan kepada jenazah.

Setelah dikuburkan, Allah akan membangkitkan mereka pada waktunya, di hari kiamat, hari yang pasti terjadi, namun tidak ada satupun makhluk yang mengetahui kapan terjadinya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

كَلَّا لَمَّا يَقْضِ مَآ اَمَرَهٗۗ

“Sekali-kali jangan (begitu)! Dia (manusia) itu belum melaksanakan apa yang Dia (Allah) perintahkan kepadanya.” (QS. Abasa: 23)

Ayat ini menjadi teguran dan peringatan bagi kita manusia, seberapapun kita telah menjalankan ketaatan pasti terdapat kekurangan padanya. Sebagian manusia menjerumuskan dirinya dalam kekafiran, sebagian lainnya berkubang pada dosa-dosa besar, sebagian lainnya banyak melakukan dosa kecil, sebagian lainnya masih belum maksimal dalam taat kepada Allah sang Pencipta. Menimbang berbagai kenikmatan yang telah Allah berikan kepada kita, serta berbagai syariat yang ditetapkan kepada kita, pasti ada kekurangan dalam ketaatan kita kepadanya.

Ketika kita telah berbuat suatu kesalahan atau kurang dalam ketaatan, segeralah kembali kepada Allah. Jangan sampai kita menyeret diri kita ke dalam maksiat yang lebih besar. Setan menggelincirkan manusia sejengkal demi sejengkal, sedikit demi sedikit, tidak langsung seketika, godaannya sangat halus namun pasti. Awalnya dari meremehkan ketaatan yang bersifat sunah, lalu mulai menggoda dengan melakukan dosa kecil, lalu dari dosa kecil naik ke dosa besar, dari dosa besar naik menjadi kemusyrikan dan kekufuran.

Maka, ketika kita merasa salah arah, kemudian Allah tegur kita dengan teguran yang lembut dan halus, segeralah kembali, Allah pasti memaafkan kita selama kita tulus bertobat. Kembalilah, sebelum semakin jauh.

[Bersambung]

KEMBALI KE BAGIAN 1

***

Penulis: Dany Indra Permana

Artikel Muslim.or.id

 

Catatan kaki:

Mayoritas cetakan dan halaman referensi adalah dari app turath https://app.turath.io/ dan https://tafsir.app/


Artikel asli: https://muslim.or.id/114805-tafsir-surah-abasa-bag-2.html